Malam itu kamu melepas jaket denim baru yang seharian menemanimu, lalu menyampirkannya di sandaran kursi. Jaketnya tidak mau merosot. Bahunya tetap tegak dan lengannya masih sedikit menekuk di siku, seolah ada tamu tak terlihat yang belum mau pulang.
Pikiran pertama yang muncul biasanya sama: jangan-jangan ukurannya salah.
Kemungkinan besar tidak. Hampir semua jaket denim baru seperti itu di minggu-minggu pertama, termasuk jaket denim biru gelap dari lini Atelier. Kainnya masih perlu dipakai cukup lama sebelum lemas dan menyesuaikan diri dengan badanmu. Melenturkannya tidak sulit, asal kamu tidak tergoda trik kilat.
Kaku Itu Bawaan Kain Denim yang Masih Baru
Denim pada dasarnya katun tebal yang ditenun rapat. Setelah diwarnai, kain itu masih melewati tahap penyelesaian di pabrik, jadi ketika sampai di tanganmu seratnya kaku dan permukaannya padat. Yang nanti melunakkannya adalah hangat badan dan gerakan sehari-hari, dibantu air saat jaket akhirnya dicuci.
Raw denim biasanya paling keras di antara semuanya. Sebutan ini dipakai untuk denim yang belum pernah dicuci sama sekali sejak diwarnai. Kanji dan sisa pewarna indigo dari pabrik masih menempel di seratnya. Celana pun begitu. Sepotong celana raw denim biru dongker awalnya terasa keras, lalu lama-lama ikut membentuk lekuk lutut dan cara duduk pemakainya.
Jadi rasa kaku itu bukan cacat. Kainnya hanya belum pernah diajak beraktivitas.
Membedakan Jaket Kaku dan Jaket Kekecilan
Kecurigaan soal ukuran tetap layak dicek, karena kain yang kaku dan jaket yang kekecilan adalah dua masalah berbeda.
Berdirilah di depan cermin dan pasang semua kancingnya. Kalau kain di sekitar kancing tertarik sampai membentuk kerutan seperti huruf X, badan jaketnya terlalu sempit. Lalu raba ujung tulang bahumu dan cari jahitan bahu jaket. Kalau jahitan itu berhenti sebelum mencapai tulang tersebut, bagian bahunya kekecilan.
Terakhir, silangkan kedua tangan di depan dada. Kain baru memang terasa menahan gerakan. Tapi kalau kain di punggung menegang keras dan tanganmu tertahan di tengah jalan, masalahnya ada di ukuran.
Kalau tidak ada satu pun tanda itu, ukuranmu aman. Kalau ada, menunggu tidak akan menolong. Kain yang melunak akan lebih enak dipakai, tapi tidak akan memindahkan jahitan bahu.
Pakai di Rumah Dua Sampai Tiga Jam Setiap Hari
Obat paling manjur untuk denim kaku terdengar membosankan: dipakai, lalu dipakai lagi. Kamu bahkan tidak perlu keluar rumah. Kenakan saja saat membalas pesan kerja di depan laptop atau menunggu air mendidih di dapur. Tidak perlu seharian, dua atau tiga jam pun cukup. Kalau siang sedang gerah, lakukan di ruangan ber-AC. Jaketnya tidak keberatan.
Selagi memakainya, ajak bagian yang keras ikut bergerak. Tekuk lalu luruskan siku berkali-kali sampai garis lipatannya muncul. Julurkan kedua tangan jauh ke depan, seperti menyodorkan piring ke seberang meja makan. Sesekali dekap dirimu sendiri, seperti penonton yang kedinginan di bioskop.
Setiap kali siku ditekuk, kain di situ terlipat di garis yang sama. Lama-lama serat di garis itu mengendur, dibantu hangat badanmu. Siku, bahu, dan punggung, bagian yang paling banyak bergerak, biasanya menyerah paling awal.
Ada satu cara aman untuk mempercepatnya: uleni pelan bagian yang paling keras dengan kedua tangan, seperti adonan roti, sambil menonton bola. Sisanya urusan waktu. Kalau rutin dipakai beberapa jam hampir tiap hari, umumnya jaket mulai luwes di badan setelah dua sampai empat minggu. Jadi jangan menyerah di hari ketiga.
Jaket Denim Baru Tidak Wajib Dicuci Sebelum Dipakai
Kebiasaan mencuci pakaian baru sebelum dipakai boleh dilewati untuk jaket denim. Kalau bahannya raw denim, tahan dulu keinginan mencucinya sampai lipatan dari gerakanmu terbentuk. Dari lipatan itulah pola pudar khas raw denim muncul.
Untuk sekadar menghilangkan bau kemasan, angin-anginkan saja semalaman di dekat jendela yang terbuka. Begitu tiba waktunya dicuci, balik jaketnya sehingga bagian dalam ada di luar, lalu cuci dengan air dingin.
Air Panas dan Trik Kilat Lain yang Merusak Denim
Resep untuk melemaskan denim dalam semalam gampang ditemukan di internet, dan kebanyakan meninggalkan kerusakan yang tidak bisa diperbaiki.
Rendaman air panas bisa membuat katun menyusut tidak sama rata, sehingga bentuk jaket melenceng. Warna indigonya pun luntur lebih cepat dari yang seharusnya.
Pelembut pakaian memberi rasa licin yang hanya bertahan sebentar. Sisanya tertinggal sebagai lapisan di serat, dan kain jadi terasa lain di tangan. Pada raw denim, lapisan itu juga menghambat warna memudar secara alami, padahal pudar itulah yang ditunggu-tunggu pemiliknya.
Ada juga yang mencucinya berkali-kali dalam seminggu supaya cepat lemas. Hasilnya, indigo pudar di tempat yang keliru, bukan di lipatan bekas gerakanmu.
Setrika yang disetel paling panas pun tidak menolong. Seratnya tetap keras, dan permukaan denim malah bisa berbekas mengilap untuk selamanya. Untuk kusut yang mengganggu mata, pilih setrika uap bersuhu rendah dan taruh selembar kain tipis di antara setrika dan jaket.
Kesalahan semua cara itu sama: mencoba memadatkan kerja beberapa minggu ke dalam satu sore.
Tanda Jaket Denim Sudah Lentur dan Mengikuti Badanmu
Suatu pagi kamu mengangkat gelas kopi dan sadar sikumu tidak lagi harus melawan kain. Di bagian dalam lengan dan di punggung mulai tampak garis lipatan yang polanya mengikuti gerakmu sendiri. Bahunya juga sudah turun mengikuti garis badan, tidak lagi kotak seperti waktu masih tergantung di toko.
Proses yang sama berlaku untuk jaket denim model work berbahan slub. Slub artinya benang kainnya punya bagian tebal dan tipis, jadi permukaannya terasa sedikit tidak rata saat diraba. Teksturnya memang berbeda, tapi ceritanya sama dengan denim lain: makin sering dipakai, makin nyaman di badan.
Lalu suatu malam kamu menyampirkannya lagi di kursi yang sama. Kali ini bahunya ikut merosot dan lengannya menggantung lemas. Tamu tak terlihat itu sudah pulang.