Undangannya cuma satu baris di grup angkatan: "Jumat malam makan bareng ya, tempat nyusul." Kamu langsung membalas "ikut", seperti sepuluh orang sebelum kamu. Baru setelah ponsel diletakkan, pertanyaan yang sebenarnya datang. Nanti pakai apa?
Acara seperti ini biasanya masuk wilayah yang disebut smart casual. Tidak resmi, tapi juga tidak bisa asal. Istilahnya sering dipakai dan jarang dijelaskan. Untungnya, caranya sederhana: kenali dulu acaranya, lalu pilih satu bagian pakaian yang bertugas terlihat rapi.
Smart Casual Bergeser Mengikuti Acaranya
Banyak yang mengira smart casual punya satu resep tetap, misalnya kemeja dengan celana bahan dan sepatu kulit. Kalau semudah itu, mestinya tidak ada yang pernah salah kostum.
Bayangkan saja sebuah garis. Ujung yang satu hampir setelan jas. Ujung yang lain hampir baju rumahan di akhir pekan. Tugasmu cuma menebak acara kali ini ada di sebelah mana. Makan siang bersama tim jelas beda posisinya dengan makan malam pertama bersama calon mertua.
Di meja yang sama pun, yang datang berkemeja dan yang cukup berkaos dengan celana rapi bisa sama-sama benar.
Cara Membaca Seberapa Rapi Sebuah Acara
Undangan yang diam soal pakaian sebenarnya tetap memberi kode. Ajakan spontan di grup biasanya berujung santai, sementara undangan resmi yang dikirim jauh hari cenderung lebih serius.
Setelah itu, lihat tiga hal. Tempat dulu. Restoran yang mejanya harus dipesan, apalagi yang punya petugas untuk memarkirkan mobilmu, butuh penampilan lebih rapi daripada kafe dekat kantor atau acara bakar-bakaran di rumah teman.
Kemudian jamnya. Makan siang jarang menuntut banyak. Begitu acara yang sama dipindah ke malam hari, standarnya ikut naik.
Terakhir, daftar tamunya. Ada atasan atau klien di meja, apalagi orang tua? Naikkan kerapianmu sedikit. Kalau semuanya teman angkatan, ruang untuk santai lebih lebar.
Hitung saja. Kalau dua di antaranya condong ke rapi, acaranya rapi. Kalau hanya satu, pakaian santai masih bisa diterima, selama satu bagian tetap kamu jaga betul.
Cukup Satu Bagian Pakaian yang Tegas
Dari semua yang menempel di badanmu malam itu, satu bagian saja sudah cukup untuk menjaga kesan rapi. Sebut saja bagian ini penegas. Wujudnya bisa kerah kemeja yang tetap berdiri, atau garis celana yang jatuh bersih. Sepatu yang kelihatan dirawat juga bisa mengambil peran itu. Sisanya boleh santai, dan kontras kecil itu yang membuat pakaianmu terasa seimbang.
Waktu kamu masuk ruangan, orang tidak memeriksa pakaianmu satu per satu. Mata mereka berhenti di bagian yang paling tertata, lalu menilai keseluruhannya dari situ.
Kalau semuanya serba tegas, kamu malah mirip orang yang mau wawancara kerja. Kalau tidak ada yang dijaga sama sekali, kamu terlihat seperti baru pulang futsal lalu kebetulan mampir. Satu penegas memberi tahu orang bahwa santainya pakaianmu memang disengaja.
Kemeja Oxford Jarang Salah Tempat
Kalau bingung harus mulai dari mana, ambil kemeja oxford. Tenunannya sedikit bertekstur, jadi tidak sekaku kemeja kerja yang licin. Kerahnya juga tidak gampang layu, bahkan sampai makanan penutup datang.
Kemeja ini tetap kelihatan niat walau dipakai santai. Buka kancing paling atas dan gulung lengannya dua kali. Ujungnya pun boleh dibiarkan di luar celana. Selama kerahnya masih berdiri, kesan rapinya tidak hilang.
Untuk makan malam, kemeja oxford biru dongker termasuk pilihan aman karena warna gelapnya cocok dengan lampu kuning restoran. Kalau acaranya siang, ambil warna yang lebih muda dari seri yang sama.
Kalau Atasannya Kaos, Celana yang Harus Rapi
Kadang yang santai justru atasannya. Acaranya siang, matahari sedang galak, dan kaos polos jauh lebih masuk akal daripada kemeja. Kalau begitu, tugas menjaga kerapian pindah ke celana.
Syaratnya cuma dua: garis kakinya lurus, dan ujungnya tidak bertumpuk di atas sepatu. Potongan ankle memudahkan keduanya, karena celana jenis ini memang dibuat lebih pendek, berhenti di pergelangan kaki. Contohnya Ankle Prime warna abu arang. Kaki celananya jatuh lurus, dan warnanya cukup gelap untuk makan malam tanpa terasa berat di siang hari. Kalau belum punya, mulai saja dari deretan warna Ankle Prime dan pilih warna yang biasa kamu pakai sehari-hari.
Kaosnya pun jangan sembarangan: polos, ukurannya pas, dan lehernya belum melar. Celana serapi apa pun tidak bisa menyelamatkan kaos bekas tidur semalam.
Terlalu Rapi Sama Salahnya dengan Terlalu Santai
Salah kostum yang pertama: kelewat rapi. Kemeja dimasukkan rapat, pantofel disemir sampai berkilat, seperti mau foto ijazah. Di tengah meja yang isinya kaos dan lengan kemeja tergulung, kamu jadi satu-satunya yang kelihatan salah membaca undangan.
Yang kedua kebalikannya: kaos lecek dan sandal jepit, toh tidak ada yang bilang harus rapi. Masalahnya, tidak ada tanda bahwa kamu sempat bersiap.
Dua-duanya berangkat tanpa membaca acaranya, dan perbaikannya tidak perlu drastis. Yang kelewat rapi cukup melepas satu hal, misalnya mengeluarkan ujung kemeja. Yang kelewat santai cukup menambah satu hal, misalnya mengganti sandal dengan sepatu kets yang bersih.
Tes Dua Detik di Depan Cermin
Sebelum keluar kamar, lihat cermin dan tunjuk penegasmu malam ini. Kalau dalam dua detik jarimu sudah tahu arahnya, berangkat. Kalau masih mencari-cari, ganti satu barang saja. Lemarinya tidak perlu dibongkar.
Masih bimbang di antara dua kombinasi? Ambil yang setingkat lebih rapi. Lengan masih bisa digulung di lampu merah, sedangkan kerah yang tertinggal di rumah tidak bisa kamu pinjam dari teman sebelah.
Kamis sore, nama tempatnya akhirnya muncul di grup: restoran yang mejanya harus dipesan dulu. Ditambah jam makan malam, sudah dua petunjuk yang condong ke rapi. Kemeja oxford langsung keluar dari lemari untuk disetrika. Soal kancing atasnya, biar diputuskan di parkiran setelah melihat teman-teman yang datang lebih dulu.