KASUAL Stories

Setelah Jaket Riding Digantung di Spion, Kamu Pakai Apa?

Diterbitkan

Setelah Jaket Riding Digantung di Spion, Kamu Pakai Apa?

Motor sudah berjajar di parkiran kafe. Seorang teman rombongan mengangkat ponselnya dan berseru, "Foto dulu! Jaketnya lepas, biar kelihatan santai." Kamu menurunkan ritsleting jaket pelindung, lalu teringat apa yang ada di baliknya: kaos panitia tujuh belasan yang lehernya sudah melar.

Foto itu masuk grup WhatsApp sore itu juga, lalu tersimpan di galeri semua orang. Rutenya mungkin cepat terlupa. Kaos panitia itu tidak.

Sore santai bersama rombongan biasanya berjalan dengan pola yang mirip. Dua jam di jalan, disusul tiga jam mengobrol di kafe sampai es kopi susu tinggal es batunya. Jadi kamu sebenarnya lebih lama berhenti daripada berkendara. Anehnya, pakaian hampir selalu disiapkan hanya untuk bagian yang di atas motor. Padahal pakaianmu perlu enak dipakai di dua keadaan: saat melaju dan saat duduk mengobrol.

Perlakukan Jaket Pelindung Seperti Helm

Jaket riding yang dilengkapi bantalan pelindung di siku dan punggung adalah perlengkapan keselamatan. Ia menjagamu selama motor melaju, dan tugasnya selesai begitu standar diturunkan. Tidak ada yang menyeruput kopi dengan helm masih di kepala. Jaket pelindung juga tidak perlu ikut duduk di meja.

Anggap saja ia lapisan luar yang cuma menumpang selama perjalanan. Karena itu, susun pakaian dari dalam ke luar. Tanyakan dulu: kalau jaket itu sudah tergantung di spion, apa yang dilihat orang? Itulah pakaianmu hari itu. Kalau jawabannya kaos kusut atau kaos dalam tipis, lapisan dalam itulah yang perlu dibenahi.

Kaos atau Kemeja di Balik Jaket Pelindung

Lapisan inilah yang paling lama dilihat orang, jadi jangan asal comot dari lemari. Untuk suasana santai, kaos polos sudah cukup. Syaratnya, kainnya tidak cepat kusut dan mau menyerap keringat. Setelah dua jam terhimpit jaket, kaos yang mudah kusut biasanya keluar dengan lipatan melintang di bagian perut.

Kemeja lengan pendek juga layak dicoba. Yang berbahan tipis tetap adem di balik jaket, dan begitu kamu duduk, kerahnya membuat penampilan terlihat lebih siap daripada kaos biasa.

Yang sebaiknya dihindari adalah bahan tebal. Jaket pelindung saja sudah membuat badan hangat, apalagi di jalanan siang. Kaos tebal di dalamnya hanya membuatmu kepanasan, lalu basah keringat sebelum sampai.

Bawa Jaket Denim untuk Dipakai Saat Berhenti

Kalau ingin terlihat lebih rapi saat duduk nanti, siapkan satu lapisan luar yang ringan di tas atau di bagasi bawah jok. Pilihan paling praktis untuk ini adalah jaket denim. Kainnya tahan banting, jadi tidak masalah kalau sempat terlipat berjam-jam. Pakai di atas kaos polos, dan bahumu langsung terlihat lebih tegas.

Contohnya jaket denim Atelier warna biru gelap. Lipat, selipkan ke tas, lalu kenakan setelah helm dilepas. Kalau isi lemarimu kebanyakan hitam dan abu-abu, versi hitam dari jaket yang sama akan lebih gampang dipasangkan.

Ingat, jaket denim ini dipakai setelah motor parkir. Di jalan, yang melindungimu tetap jaket pelindung. Sebagian orang memang memakai jaket denim untuk jalan pelan di dalam kota. Tetap saja, kainnya tidak punya bantalan pelindung sama sekali.

Jaket yang dipakai nongkrong dekat parkiran sering pulang membawa bau knalpot. Angin-anginkan semalaman di tempat terbuka sebelum disimpan, dan tahan dulu keinginan untuk langsung melipatnya. Kalau bisa, parkir dan duduk sedikit menjauh dari deretan knalpot.

Satu lapisan tambahan seperti ini biasanya cukup kalau tujuanmu cuma ngopi. Lain cerita kalau perjalanan berakhir di acara yang menuntut rapi, misalnya kondangan. Untuk yang itu, bawa baju ganti sekalian.

Celana yang Lega di Paha tapi Tetap Jatuh Rapi

Celana diuji dua kali dalam satu sore. Pertama di atas jok, saat lutut menekuk lama dan paha ikut bergerak setiap kali kamu menurunkan kaki di lampu merah. Lalu di kursi kafe, tempat kamu duduk berjam-jam, sebentar bersandar, sebentar condong ke meja.

Kalau pahanya sempit, kain akan terus menarik selama perjalanan. Sampai di kafe, giliran lipatan kusut di pangkal paha dan belakang lutut yang ikut nongkrong bersamamu.

Jadi, cari celana yang memberi ruang di paha, tapi tetap terlihat lurus dan rapi dari luar. Salah satu yang memenuhi syarat itu adalah celana Regular Comfort warna cokelat. Potongannya lega di bagian yang perlu bergerak, dan warnanya cukup kalem untuk dibawa ke kafe mana pun. Kalau kamu lebih suka potongan yang longgar sampai ke bawah, lirik celana lebar warna cokelat kehitaman dari lini City. Ruangnya lebih banyak, dan tampilannya tetap rapi, jauh dari kesan celana tidur. Jeans tebal juga boleh, asal bagian pahanya tidak ketat.

Soal warna, debu jalan adalah lawan utama. Cokelat, hitam, dan hijau keabu-abuan bisa menyamarkannya sepanjang sore. Celana putih atau krem muda biasanya sudah kusam, padahal kopi pertama belum diantar.

Dua Tes Singkat Sebelum Mesin Dinyalakan

Sebelum berangkat, berdiri sebentar di depan cermin dengan jaket pelindung terpasang. Lalu buka jaketnya dan lihat apa yang tersisa. Kalau yang terlihat membuatmu ingin terus memakai jaket sampai pulang, berarti ada lapisan yang masih kurang.

Tes kedua untuk celana. Angkat satu lutut seperti saat kaki bertumpu di pijakan motor, atau jongkok sebentar seperti mau mengikat tali sepatu. Kalau kain di paha terasa menegang, cari potongan yang lebih lega.

Kalau keduanya lolos, teriakan "foto dulu" berikutnya tidak perlu bikin panik. Kamu tinggal melepas jaket dan ikut berdiri di barisan depan.