KASUAL Stories

Celana Kerja Pria: Memilih Bahan yang Tetap Rapi Setelah Duduk Lama

Diterbitkan

Celana Kerja Pria: Memilih Bahan yang Tetap Rapi Setelah Duduk Lama

Lift berhenti di lantai tujuh, dan untuk pertama kalinya sejak pagi kamu melihat dirimu dari kepala sampai kaki di cermin. Kemeja masih rapi. Masalahnya ada di celana. Garis-garis kusut menyebar dari pangkal paha ke arah lutut, seperti kertas yang pernah diremas lalu diratakan lagi. Rapat dengan klien mulai lima menit lagi.

Kamu mengusap pangkuan dengan telapak tangan, dua kali. Garisnya tetap di situ.

Padahal tadi pagi celana itu masih licin. Sejak itu kamu duduk hampir lima jam di depan laptop dan cuma berdiri sekali untuk ke toilet. Kalau kamu sedang mencari celana kerja pria untuk hari-hari seperti ini, yang paling perlu diperiksa adalah apa yang terjadi pada kainnya setelah lama diduduki.

Kenapa Celana Kusut Setelah Duduk Berjam-jam

Begitu kamu duduk, kain celana terlipat di dua tempat: di pangkuan dan di belakang lutut. Lipatan itu lalu ditindih berat badanmu dan dihangatkan suhu tubuh selama berjam-jam. Prosesnya mirip menyetrika, hanya saja hasilnya garis yang tidak kamu inginkan.

Jadi pertanyaannya bukan apakah celanamu akan kusut. Semua kain kusut kalau diduduki selama itu. Yang membedakan adalah daya pulihnya, yaitu seberapa cepat kain kembali rata setelah kamu berdiri dan berjalan beberapa langkah. Kain yang daya pulihnya bagus sudah tampak rapi lagi sebelum kamu sampai di ruang rapat. Yang daya pulihnya buruk akan membawa jejak kursi sampai sore.

Tes Remas dan Tes Duduk Sebelum Membeli

Mengecek daya pulih kain tidak butuh alat apa pun. Ambil sedikit kain di bagian paha, genggam kuat-kuat sambil menghitung sampai sepuluh, lalu lepaskan.

Lihat apa yang tersisa. Kerutan yang cepat melunak dan hampir hilang dalam semenit berarti kain itu akan baik-baik saja di kantor. Kalau yang tersisa garis tajam yang tidak mau pergi, begitulah kira-kira pangkuanmu sore nanti, dan celana itu sebaiknya kembali ke raknya.

Setelah itu, bawa celananya ke kamar pas dan duduk di bangkunya selama dua atau tiga menit. Silangkan kaki sebentar, lalu berdiri dan jalan beberapa langkah sebelum menengok ke cermin. Dua menit memang jauh dari lima jam. Tapi kain yang sudah berbekas dalam waktu sesingkat itu jelas tidak akan lebih baik setelah seharian.

Belanja lewat aplikasi? Andalkan keterangan bahan di halaman produk, lalu cocokkan dengan dua jenis bahan di bawah.

Angkat Celananya dan Lihat Cara Kainnya Menggantung

Jatuh kain adalah cara kain menggantung saat tidak ada yang menariknya. Pegang celana di ban pinggangnya dan angkat setinggi dada sampai kedua kakinya menjuntai.

Celana kerja yang bagus jatuh lurus dan tenang, dengan sedikit bobot yang menarik kainnya ke bawah. Bobot itu membantu saat kamu berdiri, karena kerutan di pangkuan pelan-pelan tertarik turun sampai rata.

Ada dua tanda yang patut dicurigai. Kain yang terlalu tipis dan ringan gampang berayun dan menempel di kulit, jadi kusut sekecil apa pun kelihatan. Kain yang terlalu kaku justru menggantung seperti pipa, lalu menekuk tajam di belakang lutut begitu kamu duduk.

Satu cek kecil lagi: tarik kainnya ke samping pelan-pelan, lalu lepaskan. Kain yang baik langsung kembali rata. Permukaan yang masih bergelombang biasanya pertanda bagian lutut akan menggembung setelah kamu duduk lama.

Pilih Katun atau Poliester Sesuai Suasana Kantormu

Dari tes tadi, pilihanmu biasanya mengerucut ke dua jenis bahan.

Yang pertama chino, celana katun bertenun diagonal yang lebih santai dari celana bahan tapi tetap pantas ke kantor. Di label, tenunan ini sering ditulis twill. Cari yang dicampur sedikit elastan atau spandeks. Katunnya terasa adem, sementara elastan membantu kain ikut menekuk saat kamu duduk lalu kembali ke bentuknya saat berdiri. Kusut tipis masih akan muncul, dan di kantor yang santai itu wajar saja.

Chino panjang di lini Chino Workpant memakai campuran seperti ini. Kalau kamu lebih suka ujung celana yang berhenti di sekitar mata kaki, potongan yang biasa disebut ankle, ada versi ankle berwarna cokelat kopi dari lini Smart Waist Ankle Chino. Lipatan tengah di depan kakinya membuat garis celana tetap tegas walau pangkuannya sedikit kusut.

Yang kedua poliester dengan tenunan rapat. Jatuhnya lebih mulus, lebih mirip celana bahan yang biasa dipakai di kantor formal, dan lebih tahan kusut. Bahan ini cocok untuk hari yang penuh rapat atau perjalanan dinas. Salah satu contohnya celana Ankle Prime berwarna hitam, yang jatuhnya stabil dan kainnya cepat kering di udara lembap.

Linen sebaiknya disimpan untuk akhir pekan. Kainnya memang adem, tapi kusutnya datang cepat dan bertahan lama.

Potongan yang Memberi Ruang di Paha dan Pinggang

Potongan celana ikut menentukan. Celana yang terlalu sempit di paha akan tertarik saat kamu duduk, dan tarikan itu meninggalkan garis melintang di pangkuan. Saat berdiri di kamar pas, coba cubit kain di bagian paha. Kalau masih ada yang bisa dicubit, ruangnya cukup. Soal beda slim dan straight, penjelasan singkatnya ada di Pusat Bantuan KASUAL.

Pinggang juga perlu diperhatikan. Celana yang rapi tapi menekan perut setelah makan siang akan membuat sisa hari terasa panjang. Lini Smart Waist menyelipkan karet di dalam ban pinggangnya, jadi tekanan di perut berkurang saat duduk lama, sementara bagian depan tetap rata.

Kebiasaan Kecil Supaya Celana Rapi Sampai Pulang

Kain yang bagus tetap perlu dibantu. Berdirilah setiap satu atau dua jam, entah untuk mengisi botol minum atau sekadar meregangkan kaki. Beberapa langkah sudah cukup memberi lipatan di pangkuan kesempatan untuk rata sebelum benar-benar membekas.

Sampai di rumah, gantung celana terbalik dengan dijepit di ujung kakinya. Bobot kainnya sendiri akan menarik sisa kusut semalaman, jadi besok pagi kamu cukup menyetrika sebentar, atau malah tidak perlu sama sekali.