Kenapa Jalur Kancing Polo Bergelombang Setelah Dicuci, dan Cara Meratakannya Lagi
Diterbitkan
Foto bersama dari acara keluarga masuk ke grup. Seperti semua orang, yang pertama kamu cari adalah dirimu sendiri. Kamu perbesar fotonya. Rambut aman, senyum lumayan. Lalu matamu turun ke dada.
Polo hitam yang tadi pagi kamu pilih karena terlihat rapi ternyata bermasalah. Jalur kancingnya berkelok naik turun, mirip halaman buku tulis yang pernah ketumpahan air lalu mengering. Badan polonya rata dan kerahnya masih tegak. Hanya garis pendek di tengah dada itu yang bergelombang, dan sekali terlihat, matamu terus kembali ke sana.
Untungnya, polo seperti itu belum tentu harus pensiun.
Penyebab Jalur Kancing Bergelombang: Dua Lapis Kain yang Menyusut Tidak Sama Banyak
Kalau dibedah, jalur kancing (dalam istilah garmen disebut placket) adalah tumpukan beberapa lapis kain. Dasarnya kain badan polo, yang dirajut sehingga gampang melar. Di atasnya dijahit pita penguat dari kain yang lebih rapat. Kadang ada juga lapisan tipis yang diselipkan di dalam pita itu, supaya kancing dan lubangnya tidak lembek.
Masalahnya, lapisan-lapisan ini tidak kompak saat kena air. Masing-masing menyusut dengan takarannya sendiri. Begitu satu lapis menyusut lebih banyak, pasangannya jadi kepanjangan, padahal keduanya diikat jahitan yang sama. Sisa panjang itu akhirnya melengkung keluar sebagai gelombang. Kertas buku tulis tadi bergelombang karena alasan yang mirip.
Gelombangnya bertambah parah kalau benang di tepi jalur dijahit terlalu tegang, karena kain jadi tidak punya ruang untuk menyesuaikan diri.
Bahan pitanya juga berpengaruh. Pita yang dipotong dari rajutan yang sama dengan badan polo cenderung kompak dengan kain di sebelahnya saat menyusut. Pita dari kain tenun yang kaku, seperti bahan kemeja, lebih berisiko, apalagi kalau pemasangannya kurang cermat.
Di polo hitam seperti Rise Polo Black, gelombang kecil pun gampang terlihat. Bagian yang menonjol menangkap cahaya, sementara lekukannya tenggelam dalam bayangan. Bedanya tipis, tapi sudah kelihatan dari jarak orang mengobrol.
Cara Meratakan Jalur Kancing yang Sudah Bergelombang
Waktunya menentukan. Setrika paling ampuh saat polo habis dicuci dan masih setengah kering, jadi angkat dari jemuran lebih awal.
Panaskan setrika dan nyalakan uapnya. Setrika tanpa uap juga bisa, asal jalurnya ditutup saputangan basah yang sudah diperas.
Jepit ujung bawah jalur kancing, lalu tarik pelan ke bawah sampai jalurnya sedikit tegang. Sambil tarikan itu kamu tahan, tekan setrika di bagian paling atas jalur. Angkat, turunkan sedikit, lalu tekan lagi, begitu terus sampai ke bawah. Setrika yang digeser bolak-balik ke samping justru bisa membuat jalurnya melebar.
Selama kain lemas karena uap, tarikan itu memberi kesempatan kedua lapis untuk kembali sama panjang. Selesai menyetrika, baringkan polo di atas meja atau kasur dan tunggu sampai dingin. Kain katun yang masih hangat gampang berubah bentuk lagi.
Kalau tidak ada setrika sama sekali, masih ada cara yang lebih pelan. Basahi jalur kancingnya, bentangkan polo di permukaan yang datar, lalu usap jalurnya dengan telapak tangan sampai rata. Biarkan kering dalam posisi itu. Sekali coba biasanya belum cukup, jadi lakukan lagi di satu atau dua cucian berikutnya.
Satu batasnya: cara-cara ini hanya ampuh untuk gelombang akibat susut kain. Jahitan yang rusak tidak bisa diperbaiki dengan setrika. Riak yang bertahan setelah dua atau tiga kali percobaan bisa jadi pertanda lapisan penguat di dalamnya sudah telanjur berubah bentuk.
Mencuci dan Menjemur Polo Supaya Gelombangnya Tidak Kembali
Sebelum polo masuk mesin cuci, pasang semua kancingnya. Jalur yang terkancing tetap lurus, sedangkan jalur yang terbuka gampang terpilin oleh putaran tabung. Kantong cuci berjaring juga membantu, karena kain tidak langsung ditarik-tarik oleh mesin.
Kalau mencuci dengan tangan, peras polonya dengan cara ditekan. Memuntir memang lebih cepat, tapi puntiran itu menarik tepat di sepanjang jalur kancing.
Untuk menjemur, posisi tidur paling aman. Gantungan baju juga boleh dipakai, karena yang biasanya berubah akibat gantungan adalah bahu dan kerah. Yang penting, rapikan dulu jalur kancingnya dengan tangan selagi masih basah. Itu urusan tiga detik di jemuran, dan bisa menyelamatkanmu dari sepuluh menit di depan setrika.
Hindari mesin pengering bersuhu panas. Panas memperlebar selisih susut antara kedua lapis kain, dan selisih itulah asal gelombangnya. Jemur saja di tempat teduh yang berangin. Kalau polomu biasa dicuci di jasa cuci kiloan, minta supaya tidak ikut dikeringkan dengan mesin panas.
Mengecek Jalur Kancing Saat Memilih Polo Baru
Polo yang sudah bergelombang sejak cucian pertama biasanya bermasalah dari pembuatannya: lapisannya tidak seimbang, atau jahitannya terlalu tegang. Setrika uap tetap layak dicoba, tapi tandanya bisa dikenali sejak di toko.
Di toko, perhatikan polo yang masih tergantung atau terlipat di meja. Jalur kancing yang dibuat dengan baik sudah lurus tanpa bantuan tanganmu. Lalu rasakan jalurnya di antara jempol dan telunjuk. Tebal lapisan atas dan bawah yang terasa jauh berbeda patut dicurigai. Begitu juga jalur yang sudah beriak padahal polonya belum pernah dicuci.
Lihat juga jahitan di tepinya. Kerutan halus di sepanjang jahitan biasanya tanda benangnya terlalu tegang. Kain di sekitar lubang kancing juga seharusnya rata. Sebagai tes terakhir, regangkan jalurnya pelan-pelan ke arah samping. Kalau riak langsung muncul di tanganmu, bayangkan nasibnya di dalam mesin cuci.
Kalau belanjanya lewat ponsel, perbesar foto bagian dada, persis seperti kamu memperbesar foto bersama tadi. Cari jalur yang lurus dari kerah sampai kancing terbawah, dengan jahitan tepi yang rapat. Di lini Rise Polo, misalnya, foto utama polo lengan pendeknya diambil dari jarak dekat, tepat di kerah dan jalur kancing. Jadi kamu bisa menilainya dulu sebelum memilih warna.
Kalau suatu pagi kamu malas berurusan dengan setrika, ada jalan pintas: kaos hitam berleher bulat. Kaos tidak punya jalur kancing, jadi tidak ada garis yang bisa berkelok di dadamu. Di foto bersama berikutnya, yang perlu kamu periksa tinggal rambut dan senyum.