Konser selesai hampir tengah malam. Di jok belakang ojek, kamu baru sadar yang paling pegal justru bahu kiri, tempat tali tas menggantung sejak sore. Isi tasnya cuma power bank yang tidak sekali pun dipakai dan jaket yang tidak sempat dikenakan. Sepanjang acara, tangan kananmu juga hampir tidak pernah bebas, sibuk membetulkan tali yang melorot setiap kali kamu ikut melompat.
Saran outfit konser pria yang beredar biasanya berkutat pada gaya: kaos band atau kaos polos, sepatu putih atau hitam. Padahal yang membuat konser terasa melelahkan jarang sekali urusan baju. Biang keroknya hampir selalu barang bawaan, entah karena kebanyakan atau karena tidak punya tempat yang jelas. Mengganti tas dengan yang lebih mungil juga tidak banyak menolong. Yang menolong adalah memberi setiap barang tempat yang pasti di saku, sampai tas tidak perlu ikut sama sekali.
Ponsel di Saku Kanan, Saku Belakang Dibiarkan Kosong
Ponsel paling sering kamu ambil, jadi taruh di saku yang paling gampang dijangkau: saku depan kanan, atau kiri kalau kamu kidal. Kartu dan lembaran uang menempati saku depan yang satunya. Saku itu lebih jarang dibuka, jadi kunci boleh menumpang di sana. Yang penting, kunci jangan satu saku dengan ponsel. Kalau keduanya berbagi tempat, kunci bisa ikut tertarik keluar setiap kali kamu mau merekam, lalu jatuh di antara kaki orang.
Dompet tebal tidak usah dijejalkan ke saku. Ambil satu kartu dan sedikit uang tunai, dompetnya biar menunggu di rumah.
Selama konser, saku belakang sebaiknya tidak diisi apa-apa. Saku itu gampang dijangkau orang yang berdiri di belakangmu, dan sentuhan di sana nyaris tidak terasa. Itu juga sebabnya tangan suka refleks meraba ke belakang: barang di sana tidak bisa kamu rasakan, jadi kamu terus ingin memastikan. Begitu saku itu kosong, kebiasaan bolak-balik mengecek ikut hilang.
Celana dengan Saku Depan yang Dalam
Semua pembagian tadi butuh dukungan dari celanamu. Di saku yang dangkal, ponsel bisa meloncat keluar duluan sebelum kakimu mendarat. Di saku yang kebesaran, isinya bergoyang dan menepuk paha setiap kali kamu melangkah. Jadi pilih celana yang saku depannya dalam, sampai ponsel masuk seluruhnya tanpa ada ujung yang menyembul.
Potongan celana ikut menentukan. Celana yang pas di paha menahan isi saku supaya tidak bergeser. Kalau kamu lebih suka potongan lurus yang lebar, pilih kain yang cukup tebal supaya saku dan isinya tidak ikut berayun ke sana kemari.
Celana chino bisa diandalkan untuk dua-duanya. Chino adalah celana katun bertenun diagonal yang rapat, kesannya sedikit lebih rapi daripada jeans tapi tetap santai. Kainnya biasanya cukup tebal, jadi saku tidak gampang berubah bentuk walau diisi ponsel. Tampilannya pun tetap terjaga meski kamu berdiri sepanjang acara. Sebagai contoh, chino workpant warna cokelat kopi berpotongan lurus dan lebar. Cokelatnya kalem dan hampir tidak pernah bentrok dengan kaos yang kamu pilih.
Untuk konser di lapangan terbuka, celana panjang lebih aman daripada celana pendek. Kakimu terlindung dari gigitan nyamuk dan senggolan, dan kamu tidak perlu berpikir dua kali untuk duduk di lantai yang kotor saat istirahat. Celana pendek tetap boleh, asal ponselmu bisa tenggelam utuh di sakunya.
Kaos Warna Gelap dan Sepatu yang Sudah Biasa Dipakai
Atasan untuk konser hanya perlu memenuhi satu syarat: tetap enak dipakai setelah berjam-jam berdiri dan berkeringat. Kaos katun yang tidak menempel di badan biasanya sudah cukup. Untuk warna, gelap lebih aman. Di kerumunan, debu beterbangan dan keringat datang dari segala arah, termasuk dari penonton di sebelahmu. Kaos gelap menyamarkan semua jejak itu sampai kamu tiba di rumah. Kaos putih memang tampil cerah di foto, tapi noda pertamanya biasanya sudah muncul sebelum lagu terakhir.
Pilih satu kaos andalan, misalnya Crew Tee warna abu gelap yang cocok untuk hampir semua konser. Crew Tee biru navy bisa menggantikannya saat yang abu masih di jemuran. Sore sebelum berangkat, kamu tidak perlu lagi berdiri lama di depan lemari.
Soal sepatu, tidak perlu yang khusus. Pakai pasangan yang sudah sering menemanimu jalan jauh. Yang baru dibeli sebaiknya dijajal di hari lain, jangan di tengah konser.
Coba Masukkan Semua Bawaan ke Saku, Baru Pikirkan Tas
Sebelum memesan ojek, jajarkan semua bawaanmu di meja: tiket, kunci, kartu, uang, dan ponsel. Masukkan satu per satu ke saku yang sudah ditentukan tadi. Semuanya masuk dan celana tidak menggembung? Berarti kamu sudah siap.
Barang yang masih tertinggal di meja tidak otomatis butuh tas. Tanyakan dulu, perlukah barang itu dibawa. Power bank, misalnya. Cara paling ringan adalah mengisi baterai ponsel sampai penuh sebelum berangkat, lalu biarkan power bank di rumah. Kalau ukurannya kecil dan kamu tetap merasa perlu, selipkan di saku yang jarang kamu buka, jauh dari ponsel.
Lain cerita kalau power bank-nya besar, atau ada barang yang memang tidak bisa ditinggal. Tas jadi masuk akal di situasi seperti ini. Pilih tas selempang kecil dan geser ke depan dada begitu penonton mulai berdesakan. Lihat juga aturan dari penyelenggara, karena banyak tempat konser yang membatasi ukuran tas.
Jaket butuh pertimbangan tersendiri. Rencana mengikatnya di pinggang jarang berjalan mulus, karena simpulnya bisa kendur saat kamu melompat dan jaketnya jatuh terinjak tanpa kamu sadari. Bawa jaket hanya kalau kamu memang mau memakainya dari awal sampai akhir. Kedinginan sebentar di jalan masih lebih baik daripada kehilangan jaket kesayangan.
Sepulang konser berikutnya, perjalanan di jok belakang ojek akan terasa berbeda. Bahumu ringan, dan semua isi saku masih di tempatnya. Sepanjang acara tadi, kedua tanganmu bebas merekam, atau terangkat tinggi waktu lagu favoritmu dimainkan.