Setrika di rumah Bude cuma satu, padahal pagi itu ada tujuh orang yang harus rapi sebelum berangkat ke kondangan sepupu. Antreannya mengular dari ruang tengah sampai dapur. Kamu membuka tas dan mengeluarkan kemeja yang sudah terlipat sejak kemarin pagi. Di bagian dadanya ada dua garis melintang, rapi sekali, persis mengikuti lipatanmu.
Sepupumu, yang datang dengan kereta yang sama, cuma mengibaskan kemejanya dua kali lalu langsung memakainya. Dia tidak lebih jago melipat. Kemejanya saja yang dibuat dari kain yang cepat melupakan lipatan.
Kabar baiknya, perbedaan itu bisa kamu atur dari rumah. Kusut atau tidaknya baju di tujuan sudah diputuskan saat kamu memilih apa yang mau dibawa.
Kain yang Menentukan Rapi Tidaknya Baju di Tujuan
Tas cuma tempat menitipkan baju selama perjalanan. Begitu dibuka, setiap potong akan menunjukkan sifat kainnya sendiri.
Sebagian kain seperti pelupa. Digantung sebentar atau dipakai berjalan, garis lipatannya hilang sendiri. Sebagian lagi keras kepala: sekali terlipat, garisnya ikut ke mana-mana sampai sore.
Jadi, waktu berkemas, jangan mulai dari pertanyaan muat atau tidak. Tanyakan satu hal untuk setiap potong: kalau besok dikeluarkan dari tas, bisakah langsung dipakai tanpa disetrika? Baju yang membuatmu ragu lebih baik tinggal di lemari.
Remas Sepuluh Detik, Lalu Lihat Bekasnya
Caranya gampang dan bisa dicoba malam ini juga. Kepalkan satu sudut kain kuat-kuat, hitung sampai sepuluh dalam hati, lalu buka genggamanmu.
Kalau kerutnya perlahan mengembang dan memudar, kain itu siap diajak pergi. Kalau bekasnya masih tajam seperti kertas yang baru diremas, biarkan baju itu menemanimu di hari biasa saja.
Kebiasaan ini juga ampuh di toko. Ambil ujung bawah kemeja yang sedang kamu incar, remas, lalu tunggu sebentar sebelum memutuskan. Belanja lewat ponsel juga tidak masalah. Uji saja begitu paketnya dibuka, sebelum baju itu kamu andalkan untuk bepergian. Apa yang terjadi di genggamanmu lebih bisa dipercaya daripada janji di label.
Kain yang Agak Tebal Lebih Cepat Melupakan Lipatan
Patokan kasarnya begini: makin tipis dan kaku sebuah kain, makin lama bekas lipatannya bertahan. Sebaliknya, kain yang punya sedikit bobot dan jatuh mengikuti badan biasanya lebih cepat pulih.
Kalau ada lomba menyimpan bekas lipatan, linen pemenangnya. Katun tipis yang kaku dan kering di tangan menyusul di tempat kedua. Keduanya tetap enak dipakai di cuaca panas, jadi tidak perlu disingkirkan dari lemari.
Kemeja linen yang agak kusut justru terlihat pas untuk jalan-jalan santai. Lain cerita kalau kemeja itu harus langsung tampil rapi di acara pagi. Kalau tetap ingin membawanya, keluarkan dari tas begitu tiba dan biarkan tergantung semalaman.
Nama bahan juga tidak selalu bisa jadi pegangan. Kemeja katun yang tenunannya rapat dan cukup tebal kerap lebih tahan lipatan daripada kemeja campuran yang tipis. Yang lebih berpengaruh adalah tebal kainnya dan seberapa rapat benangnya ditenun. Tes remas akan memperlihatkan bedanya.
Kemeja dan Celana yang Umumnya Lolos Tes Remas
Saat memilih kemeja, rasakan dulu kainnya di antara jari. Permukaan yang halus dan bobot yang sedikit lebih berat biasanya pertanda baik, tapi tes remas tetap yang memastikan. Sebagai contoh, kain kemeja koko Superfine putih memang dirancang tahan kusut sejak awal, dan permukaannya halus serta licin. Kerahnya model Shanghai, tegak dan pendek, jadi tidak ada ujung kerah yang bisa tertekuk di dalam tas.
Celana mengikuti logika yang sama: bahan yang rapat dan padat biasanya tiba di tujuan tanpa bekas lipatan yang aneh. Celana Executive Ankle abu-abu gelap salah satu contohnya, dengan tenunan rapat yang cepat pulih dari kusut. Panjangnya hanya sampai di atas mata kaki, jadi tidak ada kain berlebih yang menumpuk di atas sepatu. Lipatan tengah di depan kaki celananya sengaja dibuat tajam dan tahan lama. Itu satu-satunya lipatan yang memang kamu inginkan di celana.
Melipat dengan Rapi Hanya Membantu Kain yang Sudah Tepat
Begitu kainnya lolos tes, barulah teknik melipat bisa membantu. Ikuti garis jahitan kemeja saat melipat, dan usahakan lipatannya sedikit saja. Sepatu dan barang berat lain masuk duluan ke dasar tas supaya tidak menindih kemeja. Kaos dan pakaian dalam cukup digulung, lalu diselipkan di sela-sela supaya tidak makan tempat.
Hanya saja, jangan berharap terlalu banyak dari lipatan. Kain yang suka menyimpan garis tetap akan keluar kusut, serapi apa pun kamu melipatnya. Sementara kain yang cepat pulih aman-aman saja, bahkan kalau dijejalkan terburu-buru lima menit sebelum ojek datang.
Kalau Masih Ada Sisa Garis Setibanya di Tujuan
Perjalanan panjang kadang tetap meninggalkan bekas. Gantung bajunya begitu sampai. Kain yang cepat pulih biasanya sudah rapi lagi setelah beberapa jam, apalagi kalau digantung di ruangan yang lembap. Untuk kain yang kaku, siapkan waktu semalam penuh, itu pun sering masih ada garis tipis yang tertinggal.
Di hotel, bawa kemejanya ke kamar mandi dan gantung di balik pintu selagi kamu mandi air panas. Uap dari pancuran ikut mengendurkan sisa lipatan.
Cara lain, basahi bagian yang kusut dengan semprotan air, cukup sampai lembap. Kibaskan bajunya, lalu biarkan tergantung sampai kering. Kalau airnya terlalu banyak, kain butuh waktu lama untuk kering. Baju yang masuk tas dalam keadaan setengah basah juga bisa berbau apek.
Warna juga bisa sedikit menolong. Sisa garis lebih samar di kemeja koko Superfine abu-abu daripada di kemeja putih terang. Meski begitu, kemeja abu-abu dari kain yang gampang kusut tetap akan kelihatan lecek.
Kondangan berikutnya, setrika di rumah Bude mungkin masih cuma satu. Bedanya, kamu cukup mengibaskan kemeja dua kali, lalu ikut sarapan selagi yang lain masih antre.